Rabu, Desember 19, 2007

Berita :Waspadai Faktor Lingkungan

Penyakit Demam Berdarah atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) ialah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kedua jenis nyamuk ini terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempat-tempat ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan air laut. Penyakit DBD sering salah didiagnosis dengan penyakit lain seperti flu atau tipus. Hal ini disebabkan karena infeksi virus dengue yang menyebabkan DBD bisa bersifat asimtomatik atau tidak jelas gejalanya. Manifestasi klinis infeksi virus Dengue termasuk didalamnya Demam Berdarah Dengue sangat bervariasi, mulai dari asimtomatik, demam ringan yang tidak spesifik, Demam Dengue, Demam Berdarah Dengue, hingga yang paling berat yaitu Dengue Shock Syndrome (DSS). Dalam praktek sehati-hari, pada saat pertama kali penderita masuk rumah sakit tidaklah mudah untuk memprediksikan apakah penderita Demam Dengue tersebut akan bermanifestasi menjadi ringan atau berat. Infeksi sekunder dengan serotipe virus dengue yang berbeda dari sebelumnya merupakan faktor resiko terjadinya manifestasi Deman Berdarah Dengue yang berat atau Dengue Shock Syndrome (DSS).
Namun sampai saat ini, mekanisme respons imun pada infeksi oleh virus Dengue masih belum jelas, banyak faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit Demam Berdarah Dengue, antara lain faktor host, lingkugan (environment) dan faktor virusnya sendiri. Faktor host yaitu kerentanan (susceptibility) dan respon imun.
Faktor lingkungan (environment) yaitu kondisi geografi (ketinggian dari permukaan laut, curah hujan, angin, kelembaban, musim); Kondisi demografi (kepadatan, mobilitas, perilaku, adat istiadat, sosial ekonomi penduduk). Jenis nyamuk sebagai vektor penular penyakit juga ikut berpengaruh. Faktor agent yaitu sifat virus Dengue, yang hingga saat ini telah diketahui ada 4 jenis serotipe yaitu Dengue 1, 2, 3 dan 4.
Tiga M
Sujono juga mengatakan metode lingkungan untuk mencegah DBD dengan tiga “M” yaitu menguras bak mandi atau penampungan air, sekurang-kurangnya sekali seminggu. Mengganti atau menguras vas bunga dan tempat minum burung seminggu sekali, Menutup dengan rapat tempat penampungan air dan Mengubur kaleng-kaleng bekas, aki bekas dan ban bekas di sekitar rumahdan lain sebagainya.(Cr-01/ti)

Selasa, Desember 18, 2007

News : Puluhan Warga Suku Koroway Diduga Terjangkit Virus HIV/AIDS

JAYAPURA – Puluhan warga suku Koroway, suku primitif yang tinggal di wilayah perbatasan antara Kabupaten Keerom dan Kabupaten Pegunungan Bintang diduga terjangkit virus HIV/AIDS. Padahal, populasi warga suku ini kurang lebih seratus jiwa.
Informasi tersebut disampaikan Pdt. Ruth Manurung, Pendeta GKI yang selama 8 tahun mengadakan penginjilan di wilayah suku terasing yang mendiami wilayah Terfones, Dules dan Milky. Suku Koroway adalah suku primitif yang bertempat tinggal di pohon dan menggantungkan hidupnya dari berburu dan meramu.
Diduga mereka yang jarang terjangkit virus mematikan ini setelah adanya kontak dengan para pencari gaharu yang menembus keterisolasian wilayah mereka.
“Mereka terjangkit virus ini melalui para pencari gaharu yang masuk ke wilayah ini,” ungkap Pendeta Manurung.
Menurut pendeta Manurung bahwa secara kasat mata sejumlah penduduk suku Koroway memperlihatkan ciri-ciri penderita HIV/AIDS. Gejalanya seperti sariawan, hepatitis, penyakit kulit, tumbuh jamur di mulut, serta ciri-ciri lainnya yang dapat ditemukan pada penderita HIV/AIDS, bahkan ada yang badannya menyusut hingga akhirnya meninggal.
“Temuan adanya dugaan puluhan warga suku Koroway yang masih tinggal di pohon itu sudah disampaikan kepada dinas instansi terkait seperti Dinas Kesehatan Pemkab Keerom,” ujar Ruth Manurung.
Kasus HIV dan AIDS sejak pertama kali ditemukan di Merauke pada tahun 1992, terus meningkat dan kini telah menyebar hampir ke seluruh kabupaten di Provinsi Papua. Data terakhir kumulatif per 30 September 2007 menunjukkan bahwa jumlah penderita HIV /AIDS yang saat telah mencapai angka 3443 kasus.
Sebab itu sudah saatnya semua pihak terkait saling bekerjasama untuk menanggulangi hal ini. Baik pihak pemerintah dalam hal ini Dinas Kesehatan, KPAD dan LSM yang bergerak di bidang pencegahan dan pengobatan HIV/AIDS. (CR-01)

Headline: Gubernur Bernabas Suebu dan Jhon Tabo Dapat Penghargaan dari Presiden SBY

Terkait Penanggulangan Kemiskinan di Papua

JAYAPURA– Gubernur Papua Barnabas Suebu dan Bupati Tolikara Jhon Tabo meraih penghargaan Prakarsa Pembangunan Manusia Indonesia Tahun 2007, dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang diserahkan melalui Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra), Abu Rizal Bakrie
Acara pemberian penghargaan tersebut berlangsung di Gedung Birawa, Hotel Bumi Karsa kompleks Bidakara Pancoran Jakarta Selatan, Senin (17/12), dan dihadiri oleh seluruh Gubernur dan Bupati se-Indonesia.
Kedua pemimpin rakyat Papua tersebut, meraih penghargaan bergengsi menyaingi para pemimpin dari daerah lain se-Indonesia, karena dinilai oleh pemerintah pusat mampu memberi kontribusi positif, dalam penanggulangan kemiskinan di daerahnya. Dimana seperti diketahui, Papua adalah salah satu daerah di Indonesia yang kehidupan masyarakatnya masih jauh tertinggal dari daerah lain. Terutama masyarakat yang hidup di wilayah pegunungan, termasuk di Kabupaten Tolikara.
Atas penghargaan ini, Bupati Tolikara ketika dihubungi via telepon semalam mengaku senang dan menganggap penghargaan ini sebagai kado Natal istimewa di Tahun ini, yang diberikan Tuhan untuk dirinya, keluarga terlebih masyarakat Tolikara, Pegunungan Tengah dan masyarakat Papua pada umumnya .
“Saya sangat bersyukur pada Tuhan atas penghargaan ini, saya merasa ini kado Natal teristimewa yang saya terima di Tahun ini, dan saya mau persembahkan buat keluarga saya, orang tua saya, dan terlebih seluruh masyarakat Tolikara yang sudah memberikan partisipasi dan dukungannya sehingga saya bisa meraih penghargaan ini,” akunya di balik telepon.
Diakui, penghargaan yang diberikan kepada Gubernur Bas Suebu dan dirinya adalah bukti kepercayaan pemerintah pusat kepada rakyat Papua.
“Penghargaan ini sepantasnya kembali kepada rakyat, karena merupakan manifestasi dari dukungan rakyat terhadap program pemerintah yang dilakukan di kampung terpencil,” katanya.
Selama dua Tahun kabupaten Tolikara berdiri, lanjutnya, sudah banyak terobosan yang dibuat baik dari segi pembangunan infrastruktur, kesehatan, pendidikan dan bahkan dari segi keamanan. Dimana selama kepemimpinannya, masyarakat Tolikara hidup aman dan tentram. Dengan penghargaan ini, akunya, semoga bisa menjadi motivasi dan mendorong dirinya dan juga pemerintah Tolikara agar bisa lebih giat lagi di dalam membangun Tolikara ke depan, agar tidak lagi tertinggal tapi bisa sejajar dengan daerah lain.
Kaka Bas dan Jhon Tabo adalah dua wakil Papua yang tampil terhormat pada akhir Tahun 2007, merupakan pahlawan yang memperjuangkan hak-hak masyarakat miskin.
Kalau kaka Bas berjuang untuk memajukan rakyat Papua secara universal, dalam arti melayani rakyat di gunung dan di pesisir pantai. Sedangkan Jhon Tabo bergerilya di wilayah pegunungan dan hutan rimba terpencil untuk mengangkat harkat dan martabat mereka yang tertinggal di balik-balik gunung.
Setelah acara penyerahan penghargaan, Bupati Jhon Tabo mendapat kehormatan menyampaikan materi program yang dilakukan di Tolikara di hadapan para peserta Kongres Nasional Pembangunan Manusia Indonesia. Selain Provinsi Papua dan Kabupaten Tolikara, daerah lain yang menerima penghargaan antara lain Provinsi Gorontalo, Jawa Timur, Lampung dan Palangkaraya. Kabupaten Karang Anyar, Kampar, Pinrang dan Boyolali, serta 5 Kotamadya lainnya. (rin)

Sepak Bola : PERSIS vs PERSIWA

Tetap Waspada !

Djoko : Siapa lebih siap dia yang menang

JAYAPURA-Tak ada lagi rasa kesal maupun kecewa pada tim Badai Pegunungan Tengah-julukan Persiwa Wamena, pasalnya, Selasa (18/12) petang nanti di Stadion Manahan Solo, skuad tim hijau hitam ini bakal menghadapi tuan rumah Persis Solo dalam lanjutan putaran kompetisi Liga Djarum Indonesia XII tahun 2007. Ya, ini merupakan satu dari dua laga tandang pamungkas Herman Runtini cs, hasil kurang bagus yang mereka peroleh di Pasuruan dan Malang, menjadi cambuk tim untuk kembali membuktikan diri sebagai salah satu kontestan wilayah timur yang garang.
Apalagi saat ini posisi mereka yang berada di runner up sudah bergeser hingga ke peringkat empat group timur. Persiwa digeser Arema dan Deltras Sidoarjo yang saat ini memimpin tahta klasemen wilayah timur. Lalu, bagaimana Pelatih Persiwa Djoko Susilo bersam pasukannya menatap pertandingan kali ini ?
“Yang pasti persaingan empat besar jadi ramai, itu setelah Deltras ditahan Persebaya (1-1) kemarin, sementara lawan yang akan kami hadapi adalah Persis, mereka sebenarnya sangat tipis peluang ke empat besar, namun, yang dikejar bagaimana bisa lolos super liga musim depan,” kata Djoko saat dikonfirmasi Bintang Papua semalam.
Duel sarat gengsi dengan misi yang berbeda ini bakal menarik untuk ditonton, ya, tuan rumah yang terkenal garang dengan Laskar Pasopati-julukan sporter Persis itu, siap menghentikan ambisi sang tamu yang juga tidak ingin pulang dengan tangan hampa. Tidak hanya itu, Persis Solo sendiri masih terbesit luka, apalagi kalau bukan kekalahan telak 0-3 yang mereka derita saat main di Wamena (18/2) lalu. Tentu saja kekalahan itu ingian di balas oleh Eduard Tjong yang saat ini naik menjadi pelatih, sementara saat takluk di putaran pertama lalu, Persis masih ditangani Suharno.
“Kami tetap mengantisipasi kebangkitan Persis, mereka sedang dalam kondisi bangkit, ini yang harus kami waspadai, jangan sampai kami berlebihan percaya diri tetapi lupa dengan lawan, mereka juga ingin masuk super liga, posisi di klasemen saat ini membuat tim ini tak mau kehilangan point kandang,” sambung Djoko yang terkenal low profile itu.
Lantas, bagaimana Djoko melihat pertandingan sore nanti ? dengan penuh kerendahan, pelatih yang cukup tahu karakter Persiwa ini tetap melihat kalau siapa yang lebih siap dialah yang layak memenangkan pertandingan, karena, kedua tim sama-sama menyimpan ambisi menang, itu sudah jelas akan membakar semangat bertanding kedua tim selama 90 menit berlangsung.
“Saya kira siapa yang lebih siap, dia yang akan memenangkan pertandingan, kalau kami lengah, bisa saja kami gagal, sebaliknya, kalau mereka yang lengah, anak-anak sudah saya instruksikan untuk memanfaatkan peluang sekecil apapun,” tegas Djoko serius.
Djoko sadar kalau ini partai tandang dan tidak mudah mencuri point dikandang lawan, tapi, sebuah episode positif yang mereka raih ketika menang atas PSIM 1-0 di putaran kedua kemarin, semakin memperkuat rasa percaya diri tim ini untuk mampu membawa pulang point yang diharapkan. (gol)

Enita Rouw, Orang dengan HIV/AIDS

Menemukan Kembali Semangat Untuk Tetap Hidup

oleh: Klemens RM

Vonis mati untuk ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) tak membuatnya takluk. Kesedihan yang mendera tak selamanya harus diikuti. Inilah perjalanan hidup yang harus dilaluinya.

Siang di pelataran parkir Toko Sumber Makmur, di lingkaran Abepura, Jayapura . Enita Rouw sedang sibuk mengatur keluar masuknya mobil dari parkiran toko. Hari itu ia mengenakan stelan kaos berwarna kuning, dengan hiasan warna merah pada lengan kiri dan bagian bawah. Di lehernya melingkar kantong warna merah menyala, tempat ia menaruh telpon genggam.
Di kepalanya melingkar topi golf, melindungi wajahnya dari sengatan matahari. Model rambutnya tomboy, mencirikan sifatnya yang kelaki-lakian.
Disela-sela mengatur parkir di Toko Sumber Makmur, Enita keluar dari lokasi parkiran, menuju barisan taksi (angkot) Waena yang mangkal tak jauh dari situ.
Ia pun berteriak, “Waena Waena Waena,” ke arah calon penumpang.
Satu per satu penumpang taksi jurusan Waena naik. Setelah penuh, taksi pun jalan. Uang seribu rupiah Enita terima dari balik kaca sopir taksi.
Enita menjalani pekerjaan tukang parkir dan calo hanya setengah hari. Kebetulan hari itu ia mengambil giliran shift pagi. Jadi sebentar lagi ia bisa menjalani pekerjaan lain, menjualkan pinang milik temannya.
Dibalik semangat kerjanya hari itu, Enita menyimpan kesedihan mendalam sebagai seorang penderita HIV/AIDS. Namun jarang sekali ia memunculkannya di depan orang. Apalagi di depan anak satu-satunya. Hanya keceriaan yang ingin ia tampilkan, seperti saat ditemui di Shelter Jayapura Support Group (JSG), di Jl. Ayapo No.12 Abepura, Jayapura.
“Saya ini mengidap HIV/AIDS, tapi anak saya tidak,” kata Enita.
Keceriaan ini berbeda saat divonis terjangkit HIV/AIDS, November 2004. Ketika itu usianya baru 24 tahun.
“Saat itu yang ada hanya putus asa dan tak ada semangat hidup. Cita-cita sepertinya lenyap seketika,” katanya mengingat kejadian 3 tahun silam.
Lalu siksaan batin pun menderanya selama 2 bulan.
Untunglah datang JSG.
Memasuki tahun 2005, semangat hidup Enita kembali. Ia berpikir bahwa tak bisa terus-terusan meratapi apa yang terjadi. “Saya tak patut menyesalinya. Saya tidak perlu menyalahkan siapa-siapa. [Apa yang terjadi] ini adalah dari kesalahan saya sendiri.”
Enita anak ke-4 dari sekian saudara. Ia termasuk anak yang cukup nakal. Kehidupannya dekat dengan jalanan. Sex, miras dan narkoba jadi konsumsi sehari-hari. Gonta-ganti pasangan menjadi bagian dari hidupnya saat itu. Dari situlah ia tiba-tiba merasa perlu tes darah di JSG. Hasilnya ia ambil di klinik VCT RSUD Dok II Jayapura.
“Saya tak tahu dari siapa virus itu menular ke saya.”
Enita tak ambil pusing lagi, mencari siapa yang menularinya penyakit mematikan itu. Dorongan demi dorongan dari JSG membuatnya bertahan hidup. Apalagi masih ada 1 anak yang perlu dapat perhatian dan kasih sayangnya.
Dorongan itu yang akhirnya membuat Enita aktif dalam berbagai kegiatan dan pekerjaan tambahan. Ia pernah jadi outreach worker pada Yayasan Harapan Ibu. Ia pun pernah menjalani pekerjaan di Pusat Studi Kependudukan Uncen. Terakhir tanggal 31 Juli – 1 Agustus 2007 Enita mendapat kepercayaan dari JSG, mengikuti Kongres ODHA di Hotel Lido, Bogor, Jawa Barat.
Kini yang ingin ia lakukan adalah membesarkan anaknya di lingkungan dan keluarga yang selalu memberikan perhatian. Tak ada diskriminasi dari teman, keluarga dan lingkungannya.
“Anak saya adalah inspirasi, dan semua usaha yang saya lakukan saat ini semata-mata untuk membesarkan dan menyekolahkan dia, dan saya ingin setelah besar nanti dia bisa mengerti bagamana ibunya berusaha untuk membesarkan dan menyekolahkannya” kata Enita.
Ia pun lalu memberikan pesan agar stigmatisasi ODHA yang hinggap di masyarakat dihilangkan. Ia pun berpesan ke Komisi Penanggulangan AIDS agar memberdayakan ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) untuk bekerja di klinik VCT maupun KPA sendiri, supaya bisa membagi pengalaman dan mendorong ODHA membuka diri untuk menjaga masyarakat dari infeksi HIV/AIDS.Ia juga berpesan agar tidak memasang iklan yang mendiskriminatifkan ODHA. Ia merasa iklan-iklan yang ada di Jayapura sangat diskriminatif. (*)

Senin, Desember 17, 2007

Persipura-Persiwa: Terkapar atau Tetap Tegar

PERSIPURA – PERSIWA

Terkapar atau Tetap Tegar

JAYAPURA – Dua tim asal tanah Papua sedang serius menghadapi dua tur pamungkas mereka di dataran Jawa Tengah, Persipura yang siap menantang Persijap pada Rabu (19/12), sedangkan Persiwa akan meladeni tuan rumah Persis Solo Selasa (18/12) besok. Bagi Persiwa, apakah mereka mampu bangkit, atau justru terkapar lagi dikandang Persis, sementara Persipura, apakah mereka sanggup berdiri tegar dengan mendulang point atau justru terkubur lagi impian dan misi itu.

Posisi Persipura di wilayah timur masih sebagai yang terbaik, artinya, memimpin tahta wilayah timur bukan hal biasa, ini menjadi ancaman tim-tim lawan, seperti Arema, Persiwa maupun Deltras dan Persmin bahkan Persiter. Sementara Persiwa, posisi runner up yang mereka genggam selama sepekan lebih sudah disambar Arema Malang yang memukul Persiba 3-0 pekan kemarin. Kondisi ini bakal menjadi momok bagi Persipura maupun Persiwa, bisa jadi kedua tim bakal berada dalam satu group jika akhirnya peringkat Persipura tetap diatas dan Persiwa ke urutan tiga, atau bisa juga urutan dua dan empat.

Demi menghindar kejadian itu, maka jangan heran kalau keduanya siap mengulang sukses tur Jateng beberapa bulan lalu. Untuk diketahui, baik Persipura maupun Persiwa punya tren positif di dataran Jawa Tengah, mereka mampu menang atas PSIM Jogya, sejarah itu membuat motivasi kedua tim jadi membumbung saat mereka menuju Solo dan Jepara di tur terakhir ini. Bukan tidak mungkin dari kedua tim ini, masing-masing Persijap dan Persis akan kehilangan point dari pasukan meraj hitam dan hijau hitam nanti.

Untuk Persiwa sendiri, mereka sedang dalam situasi tak bagus, terpukul dengan dua kekalahan beruntun di Jatim, pasukan yang di Manajeri langsung oleh Bupati Jayawijaya Nicolas Jigibalon,S.Sos itu siap menggantikannya di Solo dan Jepara. Yang menjadi pertanyaan lagi, apakah rentetan kekalahan Habel Satya cs bakal berlanjut di Jateng ? sebab, kondisi tim tuan rumah begitu menjanjikan, sehingga sangat sulit untuk mencuri angka disini. Kubu Persipura datang lagi pertanyaan, apakah Bio Paulin cs sanggup melanjutkan episode potifnya di Jatim ? atau sebaliknya terkapar lagi di dataran Jateng.

“Semua tim tak mungkin mau kalah begitu saja. Setiap kali bertanding, target kami dapat point, untuk Solo, apapun kondisinya kami akan berusaha, bila perlu tidak hanya Solo, Jepara juga kami incar,” cetus Assisten Manager Persiwa Jhon. R. Banua tegas.

Sebuah statemen yang membuktikan kalau pasukan Djoko Susilo itu tetap pantang menyerah, mereka tak mau pesimis lebih awal, tentu teriakan menang masih menjadi misi utama tim ini. Lilitan problem yang ada sejak Pemkab Jayawijaya belum juga serius menangani tim ini terus dihapus dari benak pemain maupun pelatih.

Kondisi Persiwa jelas beda dengan Persipura, ikon tim Eduard Ivakdalam tetap realistis, dia pun enggan sesumbar jauh dulu, adalah peringatan yang dilontarkan Edu.
“Ya, pertandingan ini tetap kami anggap penting, kami tidak melihat siapa kami dan siapa lawan kami, yang kami mau bagaimana bisa tampil lepas dan mampu mendapatkan hasil,” cetus sang jenderal lapangan Persipura itu tenang.

Yang pasti antara Persiwa maupun Persipura masih sangat terbuka kans mereka menembus babak delapan besar, hanya, soal peringkat bakal seru direbut tim-tim yang masuk empat besar pada masing-masing group. Nah, mampu kah kedua tim dari bumi cenderawasih itu berunjuk gigi dalam laga mereka pada Selasa besok dan Rabu nanti ? kita tunggu saja jelmaan permainan fantastis dari kedua kubu, sudah pasti mereka tak mau terkapar hanya karena persoalan mental. Untuk itu, menjaga emosi, tidak cpat puas bila sudah unggul serta ketenangan dalam penyelesaian bakal menjadi senjata ampuh kedua tim dalam pertandingan nanti. Persipura dihadapkan dengan lawan yang sedang menginginkan deretan posisi super liga, sementara Persiwa dihantai tren positif sang lawan, demi nama Papua mereka berjanji akan menggapai hasil terbaik untuk kado Natal rakyat Papua. (gol)

Headline: Buku Tenggelamnya Rumpun Malanesia Terjual Laris

Buku Tenggelamnya Rumpun Malanesia Terjual Laris

JAYAPURA- Sebelum disita aparat Kejaksanaan negeri Jaypura buku berjudul “Tenggelamnyua Rumpun Melanesia” karangan Sendius Wonda terjual laris di toko Gramedia Jayapura.
“Hanya dalam waktu 15 hari dari 100 buku telah terjual 45 buah. Atau rata rata per harinya terjual 2 sampai tiga buah buku,” kata Iwan Van Wilan Haro, Supervisor Penjualan Toko Buku Gramedia Jayapura.
Bila dibandingkan dengan buku lainnya yang memuat persoalan politik dan kondisi sosial masyarakat Papua Tenggalamnya Rumpun Melanesia terbilang cukup diminati pembeli.
Namun karena isi buku yang ditulis Sandius Wonda dinilai mengganggu ketertiban umum, atas perintah Kejaksaan Agung buku Tenggelamnya Rumpun Melanesia akhirnya dilarang beredar.
Pihak Kejaksaan pun dalam waktu dekat akan memanggil penulisnya.
Penarikan Buku Tenggelamnya Rumpun Melanesia ini mengundang reaksi keras dari sejumlah penulis dikota Jayapura.
Ketua Umum Badan Pelayanan Pusat Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua, Socratez Sofyan Yoman menyatakan: keputusan menarik buku tersebut sama dengan melarang kebebasan berekspresi.
“Buku itu memuat fakta sosial yang terjadi dalam masyarakat “ ujarnya kepada wartawan di Jayapura, Minggu (16/12).
Dalam buku "Tenggelamnya Rumpun Melanesia". Sofyan menulis kata pengantar setebal 10 halaman. Kata pengantar itu ia tulis tanggal 27 Agustus.
Sofyan juga menyatakan tidak kuatir jika buku yang ia tulis –saat ini sudah edar di Jakarta-
“Kejaksaan tidak boleh larang-larang pekerjaan gereja,” katanya.
Sofyan juga menulis buku yang saat ini sudah bereedar di Jakarta berjudul: Pemusnahan Etnis Melanesia – Memecah Kebisuan Sejarah di Papua Barat. Judul buku ini hampir sama dengan judul buku yang ditulis Sendius Wonda, .
“Buku itu [Pemusnahan Etnis Melanesia] merupakan suara keadilan pimpinan gereja,” kata Sofyan.
Buku yang ditulis Sofyan selama 1 bulan ditahun 2006 lalu diberikan pengantar oleh Pdt. Dr Benny Giay dan Dr George J Aditjondro. Buku tersebut setebal 478 halaman. Cover buku tersebut warna merah. Desain latarnya peta Papua berwarna hitam dengan api yang membara di sekelilingnya.
“Buku itu memuat 8 bagian. Antara lain: referensi menyangkut landasan hak asasi manusia, sejarah, pembangunan dalam perspektif Indonesia dan orang Papua, bagian yang berhubungan dengan Otonomi Khusus, bagian yang menulis tentang pemekaran, tentang pelanggaran HAM dan proses pemusnahan etnis serta bagian rekomendasi,” kata Sofyan.
Sama seperti buku Tenggelamnya Rumpun Melanesia, buku Pemusnahan Etnis Melanesia juga dicetak di Yogyakarta oleh Galangpress. (rk/ab)