Sabtu, Desember 22, 2007

Features : Menanti Natal di Atas Puing-puing Rumah

Meski kehidupan ekonomi keluarganya, tak seperti tahun sebelumnya. Namun Juliana Tarasen, perempuan asal Serui yang mempunyai dua orang anak dan satu orang cucu itu, tetap merayakan Natal dengan mengucap syukur dan merenungkan makna keselamatan yang sesungguhnya.

Oleh : Defrianti

Sejak 1976 lalu, perempuan asal Ansus, Serui telah menginjakkan kakinya ke kota Jayapura dan bermukim di salah satu kawasan pesisir pantai Hamadi hingga memiliki dua oranak anak serta seorang cucu.
Sebuah rumah, dengan dinding terbuat dari kayu dan atap dari seng aluminium yang terletak dekat pasar membuat perempuan bernama Juliana Tarasen (46) yakin kehidupan ekonomi keluarganya akan membaik.
Namun harapan itu, sirna ketika sang jago merah 2006 melahap pasar sentral Hamadi yang menjadi sumber mata pencahariannya untuk mengais rejeki.
“ Sewaktu pasar belum terbakar, saya biasa jualan sagu dan ikan asap ( asar) tetapi setelah peristiwa itu saya mencuci baju pedagang yang berada disekitar rumah, “ katanya.
Setelah peristiwa tersebut, perempuan asli Papua itu, memilih membantu suaminya yang bekerja sebagai nelayan, untuk mencari nafkah dengan menawarkan jasa mencuci pakaian karena tidak mempunyai modal untuk berjualan.
Juliana mengatakan, banyak petugas yang mendatangi rumah mereka untuk mendata keluarga miskin tetapi hingga saat ini belum ada bantuan yang diberikan untuk mengembangkan modal usahanya.
“ Sertifikat pelatihan dari berbagai instansi seperti dinas perikanan,perdangangan dan koperasi sudah menumpuk namun bantuan belum ada yang kami terima untuk mengembangkan hasil pelatihan, “ tambahnya.
Selain itu, dana pemberdayaan kampung senilai Rp100 juta yang diberikan pemerintah kepada kelurahan belum disalurkan kepada kelompok menengah maupun kecil untuk memberdayakan ekonomi kelompok tersebut.
Bahkan keanggotaannya dalam kelompok usaha bersama (kube) juga belum mendapat bantuan malahan orang lain yang berada dalam luar kelompok itu, yang menerima dana kube.
Juliana dengan tulus mengikhlaskan dana yang belum tersalurkan kepada rakyat miskin yang seharusnya menerima bantuan itu.
“ Biar saja mereka pakai uang itu, nanti Tuhan yang buka jalan untuk kami, “ ungkapnya.
Meskipun demikian, Ia mengakui dengan kondisi ekonominya yang pas-pasan tetap merayakan natal, sebab makna natal bukan perayaan dengan pesta-pora tetapi mengucap syukur kepada Tuhan dan merenungkan makna keselamatan dibalik pengorbanan Yesus.
“ Kemarin kami sekeluarga sepakat memberikan sumbangan sebesar Rp50 ribu untuk membeli gula dan membuat minuman kepada tamu maupun keluarga yang berkunjung sedangkan untuk makanan Ia bersyukur mendapat bantuan daging kurban dari mesjid yang tak jauh dari rumahnya, “ ujarnya.
Padahal, sebelum peristiwa kebakaran terjadi, perayaan natal dilalui tidak seperti saat ini, dirinya hanya bisa berserah diri dan menerima semua itu sebab rencana Tuhan indah pada waktunya.(**)

HL: Bulan Sabit, Bintang Kejora dan Benang Raja Dilarang !!

Bulan Sabit, Bintang Kejora dan Benang Raja Dilarang !!

JAYAPURA- Pemerintah melarang penggunaan lambang Bulsn Sabit ,Bintang Kejora dan Benang Raja dibuat menjadi lambang daerah. Pelarangan ini muncul setelah dikeluarkannya Peraturan Pemerintah (PP) nomor 77 tahun 2007, tertanggal 10 Desember. Peraturan ini mengatur tentang lambang daerah.
Pelarangan penggunaan lambang bintang kejora ini tertuang dalam Bab IV peraturan pemerintah tersebut yang ditangatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam bab empat itu diatur tentang desain lambang daerah.
Di pasal 6 ayat 4 dikatakan: “desain logo daerah tidak boleh mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan desain logo dan bendera organisasi terlarang atau organisasi gerakan separatis dalam NKRI.”
Dalam penjelasan pasal dan ayat, secara tegas pemerintah melarang penggunaan logo bintang kejora dan juga burung mambruk. Selain bintang kejora, yang juga dilarang, lambang dan logo bendera bulan sabit di provinsi Aceh serta lambang bendera raja di provinsi Maluku.
Ketiga simbol tersebut dijadikan lambang oleh gerakan perjuangan untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yaitu Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Aceh, Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Papua dan Republik Maluku Selatan (RMS) di Maluku.
“Keterlaluan,” kata Ketua Dewan Adat Papua, Forkorus Yaboisembut menanggapi adanya pelarangan bintang kejora sebagai lambang daerah.
Forkorus menilai pelarangan itu bisa memunculkan kembali isu merdeka di kalangan masyarakat Papua. Forkorus juga mengatakan bahwa bintang kejora merupakan warisan kultural masyarakat Papua.
“Ada nilai-nilai historisnya [tentang bintang kejora],” katanya.
Forkorus mengaku belum mengetahui dikeluarkannya peraturan itu.
Sementara itu, Wakil Ketua DPR Papua, Komaruddin Watubun mengaku sudah mengetahui adanya peraturan tersebut.
“Kalau peraturan itu sudah keluar, ya mau apa lagi. Itu sudah aturan negara, jadi tidak bisa lagi [memasukkan bintang kejora dalam perdasus],” katanya.
Senada dengan Kamaruddin, anggota DPR Papua Paskalis Kossy juga menyatakan tidak akan memasukkan unsur bintang kejora dalam perdasus lambang daerah.
“Saya sudah tahu adanya peraturan [PP] tersebut. Kalau sudah dilarang, ya tidak perlu lagi dipersoalkan,” kata Paskalis.
Katanya, secara historis bintang kejora memiliki muatan politis. Ia menyatakan tidak setuju nilai historis yang memiliki unsur politik dimasukkan dalam lambang daerah.
“Jadinya kita perlu mencarikan unsur lain untuk dijadikan lambang daerah,” katanya.
Dalam Undang-Undang Otsus, katanya lagi, memang diatur adanya lambang daerah untuk provinsi Papua. Tapi dalam UU tidak disebutkan bintang kejora. “Dan pembuatan lambang daerah memang menggunakan perdasus. Dengan adanya larangan lambang bintang kejora, berarti Perdasus tidak lagi mengakomodir lambang tersebut,” pungkasnya.Selain logo dan lambang bendera, dalam PP nomor 77 tersebut juga melarang penggunaan syair himne daerah yang memiliki persamaan dengan syair himne organisasi separatis. (ab/cr 1)

Jumat, Desember 21, 2007

News : Diteriaki “Monyet”, Persipura Kalah

Raja : Kami akui kekalahan, Tapi Rasismenya ?

JAYAPURA – Seperti sudah diprediksi sebelumnya kalau tim kebanggan warga kota Jayapura Persipura bakal mengalami kegagalan saat bertandang ke markas Persijap Jepara Rabu (19/12) kemarin, benar terbukti. Menghadapi pasukan Yudi Suryata itu, skuad merah hitam harus takluk dengan skor telak 0-2. Kendati kalah, tim asuhan trio pelatih Raja-Mettu-Jarot itu belum bergeser peringkat di peringkat dua. Duel kedua tim ini sejak awal sudah diwanti-wanti benar oleh Raja Isa. Bahkan, dia sudah merasakan sengatan bara Jepara itu sejak masih di Jayapura. Atas kegagalan ini, hanya tinggal sekali lagi perjuangan yang harus dihadapi tim asal kota Port Numbay itu, ya, Persis Solo menjadi bidikan selanjutnya. Meskipun takluk 0-2 dari tuan rumah, pasukan mutiara hitam julukan Persipura tetap tegar, mereka tak mau terlalu lama dalam kekecewaan itu. Hanya, yang disesalkan dari pertandingan tersebut, adalah supporter tuan rumah yang masih menunjukan sikap kurang sportif, ya, selama laga berlangsung, tak jarang Jack Komboy cs diteriaki “monyet”, mendengar itu, Raja Isa berpendapat kalau sikap supporter yang menjurus ke Rasisme ini wajib dikenai sangsi PSSI.
Apalagi, dunia sepak bola moderen saat ini sudah mengutuk keras sikap penonton seperti itu. Lontaran keras para pendukung Persijap ini seakan mereka melihat Persipura sebagai tim asing yang tak perlu dikenali dalam negeri ini. Pada pertandingan kemarin, Persipura sesungguhnya tampil bagus, gol pembuka tuan rumah pada menit kedua babak pertama lebih pada bantuan alam (angin). Arah bola yang melambung tak diduga sang kipper Jandri Pitoy bakal berbuah gol. Praktis setelah itu tuan rumah jarang memberikan tekanan berarti bagi Persipura, bahkan, sejumlah peluang dan kesempatan Albeto cs harus tertahan lantaran sikap perangkat pertandingan (wasit dan assisten wasit) yang kurang fair.
Sementara gol kedua tuan rumah lahir lewat titik penalty dengan pelanggaran yang tidak jelas, gol tersebut terjadi setelah beberapa kali Persipura nyaris menyamakan kedudukan, melihat siatuasi seperti ini, wasit pun menghadiahkan tendangan penalty kepada tuan rumah pada saat waktu tersisa sepuluh menit.
“Kami kalah 0-2, soal hasil kami tak soal, anak-anak main bagus, terbukti banyak peluang yang didapat, tapi, ya, soal wasit saya tidak mau komentar,” tutur Raja Isa saat dikonfirmasi Bintang Papua semalam. Kendati demikian, diakui Raja kalau sepanjang partai berlangsung tim besutannya selalu dalam situasi tegang, yakni, soal rasisme yang berlebihan dikeluarkan para pendukung tim tuan rumah.
“Ini keterlaluan, racist (rasisme) atau panggilan monyet, terus menerus dilontarkan penonton. Saya kira ini perlu ditulis dan masyarakat tau, lalu, kalau begini, dimana sepak bola yang saling menghargai sesama pemain atau tim walaupun dalam kondisi baik maupun tidak, bahkan, RRI yang meliput langsung tau persis kondisi dilapangan,” sambung Raja serius.
Dengan kekalahan ini, maka Persipura yang sempat mengusung misi mencuri point di Jawa Tengah hanya tersisa satu lagi di Solo pada Sabtu (22/12) besok. “Saya kira sudah tak ada pilihan lain, apapun kondisinya kami ingin mencuri point di Solo,” lontar pelatih yang kagum dengan tim Brasil itu tegas. (gol)

News : Asyik Ngobrol 5 Rumah Ludes Terbakar

5 Rumah Ludes di Lahap si “Jago Merah”
Di Perumahan Dinas Perikanan Provinsi Papua

JAYAPUYA-Si jago merah beraksi melahap ,Perumahan Dinas Perikanan Provinsi Papua RT 04/RW.II jalan Bambu Kelurahan Trikora Jayapura Utara tepatnya dibelakang Badan Perlindungan Masyarakat Provinsi Papua Seksi Pemadam Kebakaran Milik Pemerintah Provinsi Papua, 19/12 Rabu,pukul 11.00 WIT, Yapis D0X,VI Jayapura.
Ke lima kepala keluarga warga korban kebakaran tersebut,adalah Pegawai Dinas Perikanan Privinsi Papua Diantaranya sebagai berikut,Ibu koibur Pak Mulyadi., Pak Wonatorey, A wantano, pak markus,
korban kebakaran ini, notabene bertempat tinggal di Dox.vii belakang kantor perikanan yang sedang direnovasi ,berhubung renovasi kantor Dinas perikanan provinsi papua yang menempati Aset Dinas,yang ludes tersebut, selama 6 bulan karena Dinas memindahkan mereka untuk menempati rumah tempat kejadian tersebut.
Menurut keterangan saksi mata, Sem Managi (49) api berawal dari ujung los perumahan tersebut,tepatnya di kamar rumah yang ditempati oleh Ibu koibur,dengan tiupan angin dari pantai,sehingga api melahap lima rumah sersebut begitu cepat katanya.
Kronologisnya bahwa, api diduga berasal dari arah belakangh tepatnya kamar dapur api kompor,ibu koibur setelah memasak nasi kemudian ibu Masak air,lalu asyik ngobrol di rumah tetangga karena kamar jadi mereka tidak tahu baru merka kaget baru keluar saya paling ujung diatas ini,begitu tetangga yangh berteriak saya orang pertama si4ram air itu memang pemilik rumah ada didalam rumah namun ,tak sadarkan diri bahwa dibawah kompor tersebut sedang nyimpan 4 jeriken minyak tanah Tandas Sem,notabene sebagai Pegawai Dinas perikanan sekaligus Tetangga korban Mengeluhkan dengan Pemadam kebakarannya,Katanya “memang Pemadam ini tetangga kami, tidak tahu entah bagaimana ,setelah satu jam kemudian baru pemadam kebakaran ada ditempat,itu pun Pemadam kebakaran dari Pemerintah kota yang ada di Apo, setelah lima rumah ini habis dilalap si jago baru pemadam mobil pemadam ada ditempat,Katanya, Lanjut Sem, Saat Peristiwa kebakaran, saya hanya siram dengan air saja,tapi tak dikendalikan dari api yang begitu cepat melahap yang diperbantukan dengan angin tersebut,sehingga kami hanya berharap pemadam kebakaran saja.tukas Sem,kepada Wartawan bintang Papua, Selain itu wakil kepala dinas perikanan Provinsi Papua Marthinus Ayomi, yang menyaksikan kejadian itu ,kepada Wartawan bintang papua mengatakan bahwa,”
“Kami sangat prihatin dengan kejadian ini,dan kami harus bersyukur bahwa,nyawa kita Tuhan Masih Mau menyayangi kita, sehingga yang diludes adalah harta milik kita,karena aset dan barang itu kita bisa cari, sedangkan, nyawa ini Tuhan Punya. katanya, “Apalagi Natal dan Lebaran lagi baru, ada musibah seperti ini,sehingga kami atas keluarga Dinas perikanan Provinsi Papua prihatin dengan kejadian ini.
Lanjut Ayomi “Tindakan pertama, kami akan mencarikan rumah kelimah kepala keluarga korban kebakaran ,dengan menempati perumahan Dinas di pantai hamadi yang hingga saat tidak menempati oleh pegawai lain, bagaimana pun juga itu tanggung jawab dari Dinas, sesudah itu, kita berusaha menganggarkan dana untuk bangun kembali lokasi dengan komplek Perumahan yang lebih bagus, katanya,(cr.02).

News : Informasi, Vaksin Ampuh Atasi HIV/AIDS

Vaksin Ampuh Atasi HIV/AIDS

JAYAPURA– Informasi yang diberikan secara terus menerus ke masyarakat merupakan vaksi yang ampuh untuk mencegah penyebaran virus HIV/AIDS. Hal tersebut ditegaskan Ketua Komisi Penanggulangan AIDS Daerah(KPAD) Papua, drh. Constant Karma kepada Bintang Papua Rabu (19/12), di ruang kerjanya di Sekretariat KPAD Provinsi Papua Jl. Kesehatan No.2 Dok II Jayapura.
“Informasi yang terus menerus merupakan vaksin yang ampuh untuk mencegah virus HIV/AIDS” tegas Karma. Ketua KPAD Papua menjelaskan bahwa sampai saat belum ditemukan vaksin yang bisa membunuh dan mengeliminir virus HIV secara total. Solusinya ialah pemberian informasi mengenai HIV yang tepat, benar, dan secara terus menerus kepada masyarakat. Harapannya adalah setelah masyarakat memiliki pemahaman yang baik dan benar tentang HIV/AIDS maka ada perubahan perilaku didalam masyarakat itu sendiri sehingga dari hari ke hari jumlah penderita HIV/AIDS dapat diminimalisir. Saat ini informasi mengenai HIV dan AIDS sudah dibuat kedalam bahasa-bahasa suku di Papua dan yang baru ada saat ini hanya dalam beberapa bahasa suku dan diharapkan ke depan informasi mengenai HIV dan AIDS sudah dapat dibuat dalam semua bahasa suku yang ada di Tanah Papua.
Ketua KPA Provinsi Papua mengatakan bahwa ada dua tugas besar yang harus dilakukan dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS. Tugas pertama adalah komunikasi, informasi dan edukasi (KIE). Tugas ini diemban oleh KPA dan lembaga mitra serta media, baik cetak maupun elektronik. Lalu tugas kedua adalah tugas pelayanan kesehatan yang diemban oleh rumah sakit serta Dinas Kesehatan yaitu pencegahan, perawatan dan dukungan, serta pengobatan.
Karma selanjutnya menjelaskan tentang perkembangan pencegahan dan penanggulangan HIV yang telah dicapai oleh KPA Provinsi Papua sampai saat ini. Dimana sekitar 80 % sudah terbentuk KPA di tingkat kabupaten dan kota seprovinsi Papua kecuali Kabupaten Waropen, Kabupaten Yahukimo, Kabupaten Supiori, dan Kabupaten Mamberamo Raya. Menurut Karma belum terbentuknya KPA di keempat kabupaten ini karena masalah intern kabupaten dimaksud serta kasus HIV dikeempat kabupaten ini masih rendah. “Tetapi bukan karena kasusnya masih rendah lantas tidak segera dibentuk KPA” lanjutnya. Kemudian untuk Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura sudah ada KPA tingkat distrik dan KPA Provinsi Papua sendiri sudah mempunyai Rencana Strategis (RENSTRA) tahun 2007 – 2011 untuk Pencegahan dan Penanggulangan HIV dan AIDS di Tanah Papua. Selain itu draft akhir Peraturan Daerah (Perdasi) Papua telah dibahas bersama oleh pihak DPR, Pemerintah Daerah, KPA, dan Foker LSM Papua dengan substansi utama pencegahan dan penanggulangan HIV serta perubahan Komisi Penanggulangan AIDS menjadi Badan Penanggulangan AIDS. Dengan perubahan ini maka penanganan masalah HIV dan AIDS di Tanah Papua akan menjadi perhatian utama para elit politik baik legislatif maupun eksekutif “Orang akan berebutan untuk mengurus masalah HIV dan AIDS karena institusi yang menangani HIV dan AIDS sudah berubah menjadi badan bukan komisi lagi” tegas pria enerjik ini.
Selain itu ada beberapa daerah yang sudah mempunyai Peraturan Daerah (Perda) tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV dan AIDS yakni Kabupaten Merauke, Kabupaten Nabire, Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura. KPA Provinsi Papua juga sudah mengadakan surveilance terpadu HIV dan Perilaku tahun 2006 yang memberikan gambaran yang jelas tentang prevalensi HIV dan perilaku seks masyarakat di Tanah Papua. Dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS KPA Provinsi Papua didukung oleh 8 lembaga donor dan 36 LSM yang memberikan dukungan yang sangat nyata dan sangat sinergis untuk pencegahan dan penaggulangan HIV dan AIDS di Tanah Papua.Pokja Media KPA juga telah membangun jaringan komunikasi yang luas melalui radio (FM), TV lokal dan media cetak sampai ke kampung-kampung. KPA juga telah mengadakan pelatihan Integrated Management of Adult and Adolescent Illness (IMAI) dimana telah mencapai 45 Puskesmas untuk VCT, Konselor dan Manajer Kasus sehingga sudah ada klinik VCT dan Konselor di seluruh rumah sakit di Tanah Papua.
Pemerintah Provinsi Papua dan Papua Barat melalui Gubernurnya memberikan respon yang positif sebagai pemimpin untuk upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS di Tanah Papua. KPA Provinsi Papua juga telah mengadakan kerjasama dengan Pemerintah Papua New Guinea dalam Border Liaison Meeting (BLM) dan Joint Border Commission(JBC) untuk pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS antar kedua daerah tetangga yang mendiami satu pulau.
Karma lalu berkomentar mengenai temuan Pdt. Ruth Manurung bahwa salah satu suku terasing Suku Koroway yang mendiami wilayah perbatasan Kabupaten Keerom dan Kabupaten Pegunungan Bintang yang menurut dugaannya telah terinfeksi virus HIV. “Untuk bisa memastikan apakah seseorang terinfeksi virus HIV atau tidak hanya melalui tes darah, bukan dengan menduga-duga seperti itu” tegasnya. Tetapi Karma membenarkan adanya kemungkinan itu, mengingat fakta di lapangan ada penduduk lokal yang disuruh mencarikan kayu gaharu lalu ditukarkan dengan kepuasan seks.
Dr. Barry Wopari, dari Bagian Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) Dinas Kesehatan Provinsi Papua ketika dikonfirmasi mengenai temuan ini mengatakan bahwa pihaknya belum menerima laporan resmi tentang hal ini dari Dinas Kesehatan Kabupaten Keerom.
Selanjutnya menurut Karma kendala paling utama yang mereka hadapi selama ini adalah masalah sumber daya manusia (SDM). “Kalau SDM-nya baik maka seseorang akan lebih cepat tahu apa yang harus dilakukan” jelas Karma.KPA sampai saat ini belum memiliki tenaga yang ahli di bidang ini. Untuk menyikapi ini maka KPA melakukan Training of Trainers (TOT) sesuai bidang kerja. Kendala berikut adalah masalah dana. Menurut Karma, dana yang mereka butuhkan sering datang terlambat. Sesuai informasi bahwa pendanaan untuk KPA telah diatur dalam Peraturan Presiden No. 75 tahun 2006, dimana dalam Bab V Pasal 15 Ayat 2 disebutkan bahwa : Semua biaya yang dibutuhkan bagi pelaksanaan tugas Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi dibebankan kepada Anggaran dan Pendapatan Belanja Daerah Provinsi. “Sumber pendanaan kami adalah APBD, tetapi sering terlambat” ujarnya. Karma lebih lanjut mengatakan bahwa sudah setahun staf KPA belum mendapatkan gaji karena keterlambatan ini.
Data terakhir menunjukkan bahwa jumlah penderita HIV/AIDS (per 30 September 2007) sudah mencapai angka 3434. Dimana kelompok usia produktif ( umur 20-29 tahun) yang paling banyak terinfeksi. Sedang menurut jenis kelamin kelompok pria menduduki peringkat teratas dengan jumlah penderita HIV/AIDS 1774 orang dan kelompok resiko heteroseks 3188 orang. Kabupaten Mimika menduduki peringkat teratas diantara 5 besar penyebaran HIV / AIDS dengan jumlah penderita 1382, disusul Kabupaten Merauke dengan jumlah penderita 934, Kabupaten Biak dengan jumlah penderita 342, Kabupaten Nabire dengan jumlah penderita 307, dan Kota Jayapura dengan jumlah penderita 205 orang.
Karma menghimbau kepada masyarakat untuk mencari infrormasi yang tepat dan benar sehingga memudahkan mereka untuk menjaga diri terhadap virus HIV dan AIDS dan jangan mendiksriminasikan orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Di tahun 2008 mendatang KPA akan semakin gencar untuk memberikan informasi kepada masyarakat sampai ke seluruh pelosok Tanah Papua tentang pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS serta akan lebih mengoptimalkan pelayanan kesehatan masyarakat. (cr-1)

Headline : Ribuan Umat Muslim di Papua Rayakan Idul Adha

Umat Muslim di Papua Rayakan Idul Adha

JAYAPURA- Ribuan umat muslim di Papua kemarin merayakan Hari raya lebaran haji Idul 1428 Adha. Perayaan lebaran haji berlangsung diberbagai tempat. Di Jayapura misalnya, sholat ied berlangsung . Di Masjid Raya sekitar seribu umat muslim yang berdatangan dari sekitar masjid dan tempat lainnya untuk melaksanakan shalat idhul Adha bersama . Bertindak sebagai Imam,Di masjid yang terletak dietangah pusat kota ini imam H. Zaiful Ashad, dengan khotib KH Andi Muhammad Arsyad Djabbar yang merupakan pimpinan pondok pesantren Al I`tidaiyiah Jakarta Utara.
Dalam khotbahnya, khotib mengutarakan makna dari lebaran idhul adha. Maknanya antara lain: tidak hanya berbagi dengan kaum miskin dan anak-anak fakir serta golongan ekonomi tidak mampu, tapi juga memaknainya dengan kecintaan terhadap Tuhan.
Diceritakan, idhul adha lebih dikenal dengan idul qurban. “Ini karena adanya perintah Allah SWT kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya. Perintah itu datang dalam mimpi pertamanya. Karena nabi tidak percaya, perintah itu datang lagi dalam mimpi keduanya. Sampai tiga kali. Dalam mimpi itu diriwayatkan, Allah SWT sedang menguji kadar cinta sang nabi ke tuhannya. Apakah kadar cinta itu melebihi cinta kepada si anak.”
Sementara itu di lokasi lain, tepatnya di pelataran kantor Gubernur Papua di Dok II Jayapura, sholat ied juga dihadiri ratusan umat muslim dari seputaran kota Jayapura. Sholat Ied ini diimami Ustads Ahmad Maulana.
Usai sholat ied, hari raya dilanjutkan dengan pemotongan hewan kurban. Di Masjid Raya dilanjutkan dengan acara pemotongan hewan qurban . Hewan yang dipotong sebanyak 13 ekor sapi ditambah 2 ekor kambing.
“Sebanyak 8 ekor sapi dan 2 ekor kambingnya dipotong di masjid ini,” kata Haji Aris, ketua panitia.
Delapan ekor sapi dan 2 kambing ini dibagikan ke 375 keluarga.
“Kita utamakan yang keluarga tidak mampu. Kemudian juga jemaah masjid,” katanya.
Lima ekor sapi sisanya dibagi ke Hotel Ermashita, Aspol dan Polimak.
“Satu ekor dipotong di Ermashita, dua di Aspol dan dua di Polimak.”
Di Argapura, pemotongan sapi sebanyak 5 ekor. Di sini pembagian diberikan ke sedikitnya 300 kaum tidak mampu.
Pemotongan hewan-hewan ini dilanjutkan dengan pembagian daging. Di Masjid Raya, pembagian daging menggunakan kupon. Sejak jam satu siang, antrian kupon permintaan gading qurban mulai terlihat. Puncaknya menjelang jam 4 sore.

Kodam 34 Sapi dan 15 Kambing
Sementara itu, perayaan hari raya Idul Adha juga berlangsung di Makodam XVII/Cenderawasih. Sebanyak 34 ekor sapi dan 15 ekor kambing dijadikan qurban. Proses penyembelihannya dilaksanakan di satuan masing-masing. Sementara ibadah sholat Idul Adha dilaksanakan di lapangan Apel Kompleks Makodam XVII/Cendrawasih, Kamis (20/12) pagi sekitar pukul 06.15 WIT. Dan dihadiri oleh Panglima Kodam XVII/Cendrawasih Mayjen TNI Haryadi Sutanto dan ibu Haryadi Sutanto, beserta segenap jajaran Kodam XVII/Cendrawasih dan masyarakat sekitar yang beragama muslim.
Ibadah sholat dipimpin imam Ustadz H. Muhammad Dawam S.Ag, sementara bertindak khotib adalah Ustadz Samsul Maarif S.Ag
Dalam khutbahnya, Ustadz Maarif membahas tentang keadaan masyarakat saat ini yang cenderung memiliki pola hidup pragmatis, hedonis, individualis dan materialistis.
“Akibatnya mereka semakin mencari keunggulan diri tanpa memikirkan nasib orang lain,” ujar Ustadz Maarif.
Makna perayaan hari raya Qurban kali ini, kata Ustadz, semoga dapat membentuk pribadi yang berjiwa sosial dan peka terhadap kondisi sosial kemasyarakatan.
“Dengan keyakinan ini, seorang muslim yang memiliki kepekaan sosial tinggi akan mudah melakukan amal kebajikan,” harapnya.
Setelah ibadah sholat Idul Adha, Pangdam Haryadi Soetanto menyerahkan secara simbolis satu ekor sapi kepada Ketua Panitia Qurban, Mayor Inf. Abdullah Faqih, S.Ag, yang selanjutnya diserahkan kepada petugas untuk lakukan penyembelihan. Untuk markas Kodam sendiri, hewan yang diqurbankan yakni 3 ekor Sapi dan 6 ekor Kambing.
Daging hewan Qurban ini, selanjutnya akan diberikan kepada Panti Asuhan Muhammadiyah Abepura, Pondok Pesantren Yabunaya Yoka, Pondok Pesantren Darul Maarif Pasar Lama Abepura, Pondok Pesantren DDI Entrop, dan warga fakir miskin di sekitar kompleks Makodam XVII/Cendrawasih. (ab/rin)

News : Demo Tolak Pemekaran Dihadang Polisi

Polisi Hadang Pendemo Tolak Pemekaran


JAYAPURA- Kepolisian sektor kota (Polsekta) Abepura bersama satu pleton Brigade mobil (Brimob) Polda Papua dan satu pleton Dalmas Polresta Jayapura, Rabu (19/12), menghadang satu truk pendemo dari Koalisi Mahasiswa dan Masyarakat Peduli Tanah Papua (KMMPTP) di Padang bulan saat hendak menuju ke Kantor Gubernur Provinsi Papua untuk menyampaikan aspirasi penolakan pemekaran di wilayah enam kabupaten Pegunungan tengan Papua .
KMMPTP itu, sejak pukul 09.00 WIT telah beranjak dari sekertariat mereka di Waena untuk menuju kantor Gubernur Provinsi Papua yang terletak di Jalan Soasiu Dok II bawah Jayapura dengan menggunakan sebuah truk sambil membawa satu buah spanduk dan tiga pamflet yang bertuliskan “ pemerintah Jakarta segera membatalkan enam kabupaten wilayah pemekaran Pegunungan Tengah di Provinsi Papua, Stop pemekaran transmigrasi modern faksi gaya baru meminorotaskan rakyat bangsa Papua, Orang Asli Papua ditipu oleh pemerintah pusat dan adu domab, jakrta stop kambing-hitamkan bangsa papua dan pemerintah menipu masyarakat asli Papua sadar bahwa orang Papua punah dan pulau ini jadi bahan cerita orang hitam pernah hidup”.
Koordinator KMMPTP Sebby Sambom mengatakan penghadangan yang dilakukan aparat merupkan proses pembungkaman terhadap suatu proses demokrasi penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia.
“ Surat telah pemberitahuan demo telah kami sampaikan Senin (17/12) malam kepada Polresta Jayapura, “ ujarnya.
Selain itu, Sebby menyebutkan penghadangan itu, merupakan pembunuhan karakteristik masyarakat Papua dalam menyampaikan pendapat di muka umum.
Sementara itu, Kapolsekta Abepura Dominggus Rumaropen mengatakan penghadangan itu dilakukan polisi sesuai dengan Undang -Undang Nomor 09 tahun 1992 tentang penyampaian pendapat di muka umum yaitu tiga kali 24 jam pendemo harus memberikan surat pemberitahuan kepada polisi.
“ Para pendemo yang akan menyampaikan aspirasi itu belum memberikan surat pemberitahuan, makanya kami hadang, “ katanya.
Rumaropen menyebutkan, jika sampai terjadi pemaksaan kehendak dalam penyampaian aspirasi itu, pihaknya akan memproses pendemo sesuai pasal 312 Kitab Undang –Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang tindakan melawan petugas.
“ Aksi-aksi boleh-boleh saja tapi jangan sampai masyarakat terganggu, “ tambahnya.
KMMPTP usai di hadang polisi, mereka yang terdiri dari perwakilan sebanyak 10 orang di bawa ke Polresta Jayapura untuk berdialog dengan Kapolresta Jayapura AKBP Roberth Djoenso. (ti/CR-04)